Sabtu, 28 Juli 2012

Ibunda di dalam mimpi

Uudam (Michael Sunam-Uudam, Wūdámù, 烏達木), bocah padang rumput Hulunbuir. Lahir pada 9 September 1999 dengan talenta suara merdu. Sejak berusia lima tahun, Uudam sudah direkrut  menjadi anggota termuda Quintessenso Mongolian Children's Choir, sebuah paduan suara anak-anak Hulunbuir yang mempromosikan lagu-lagu asli Mongolia. 

Baru berusia delapan tahun, hidupnya sudah diguncang tragedi. Uudam yang tumbuh lincah dan nakal, berubah menjadi anak pendiam setelah kecelakaan lalu-lintas merenggut nyawa ibu dan kemudian ayahnya. Namun seperti para leluhurnya, Uudam adalah putera Mongol sejati yang tegar, tangguh. Bila merindukan orangtuanya, Uudam tidak menangis. Dia bernyanyi.

Pada 29 Mei 2011, Uudam tampil di acara kontes bakal China's Got Talent.
Saat ditanya juri, bakat apa yang akan dia tampilkan, Uudam menjawab, bernyanyi.
Di mana bundamu? Di surga.
Ayahmu? Juga di surga.
Jawaban lugu dan wajah polosnya membuat para juri tercekat, penonton terdiam. Lalu Uudam menyanyikan sebuah kidung Mongolia, tentang rindu seorang anak pada ibunya nun jauh di stepa Mongolia, membuat juri dan penonton meneteskan air mata, walau tak banyak yang faham artinya.  Di akhir penampilannya, salah seorang juri memintanya untuk mengucapkan sesuatu tentang ibunya, dan Uudam pun berkata: "Bunda, aku selalu ingat padamu."

Sabtu, 14 Juli 2012

Baju Bodo

Baju perempuan Bugis dan Makassar yang sensual ini memang berbahan muslin yang tembus pandang. Menutupi tubuh pemakainya dari pundak hingga pinggul tanpa menyembunyikan apa pun dari penglihatan.

Polanya sangat sederhana. Berbentuk Trapesium. Dua sisinya disatukan dengan jahitan dengan menyisakan lubang untuk meloloskan kepala dan lengan. Berbahan katun tipis yang ditenun dengan jarak benang yang tidak rapat (menghasilkan efek transparan), membuat sementara kalangan menduga bahwa baju ini termasuk dalam jajaran busana-busana terawal umat manusia.

Meskipun demikian, baju yang sangat sederhana ini lekat dengan serangkaian aturan tertentu, setidaknya bagi kaum perempuan Bugis Makassar. Warna-warni baju bodo misalnya, memiliki fungsi utama sebagai penanda usia dan status sosial pemakainya. Baju bodo yang kaku oleh kanji, atau yang tidak dikanji juga memiliki makna khusus.

Sensualitas baju bodo pernah memikat James Brooke, Raja Putih dari Sarawak ketika mengunjungi Raja Bone,  dan naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace saat bertandang ke istana Raja Gowa. Kedua petualang bule itu sama-sama mencatat dalam jurnal mereka tentang baju yang "tidak menutupi lekuk-lekuk dada dan payudara pemakainya".

Para penghuni Nusantara di masa lampau, seperti rekan-rekan mereka di daratan Asia Tenggara, tidak menganggap perlu menutupi payudara wanita. Iklim panas dan lembap mengilhami mereka untuk mengenakan pakaian seperlunya saja. Bahan yang dipilih pun tipis, bahkan sampai transparan seperti dalam kasus baju bodo. Di awal era kemerdekaan Indonesia, kaum perempuan di pelosok Bali, Kalimantan, dan Papua masih terbiasa beraktivitas tanpa penutup dada. Orang pun masih dapat mengira-ngira "lekuk-lekuk dada dan payudara" pemakai baju bodo di daratan Sulawesi. Di zaman itu, perempuan Sulawesi Selatan mengenakan baju bodo sebagai pakaian pesta. Dan kecuali payudara yang sudah ditutupi beha, seluruh area tubuh dari leher sampai perut perut masih dapat diterawang.

Kini sulit dijumpai baju bodo seperti dalam foto jaman kolonial di atas. Sutera sudah menggeser muslin sebagai material pilihan. Kalau pun ada yang terlihat tembus pandang, biasanya dibuat dari kain kasa. Pemakainya pun pasti mengenakan semacam tank top atau kemben untuk menutupi payudara dan perutnya. Baju bodo sudah bukan lagi busana pesta. Penggunaannya kini terbatas pada upacara-upacara tradisional dan petunjukan-petunjukan budaya Sulawesi Selatan.