Minggu, 07 April 2013

Disain Wayang Wahyu

Berhubung saat ini saya berdomisili di pulau Jawa, sedikit demi sedikit saya pun mulai tertarik mencermati budaya pulau ini. Mengingat sejarah panjang pulau ini, tidak heran kalau rakyatnya memiliki budaya yang canggih. Sebagai penduduk mayoritas di pulau ini, suku Jawa memiliki produk budaya yang beragam, salah satunya adalah wayang.

Singkatnya saya tertarik pada desain wayang purwa yang mempengaruhi desain wayang-wayang Jawa lainnya, termasuk wayang wahyu. Wayang wahyu adalah kreasi belakangan yang dimaksudkan untuk mementaskan kisah-kisah Alkitab melalui media paling populer di Jawa, pentas wayang.

Disain wayang purwa memiliki aturan-aturan baku karena sarat dengan perlambang. Karena itu, meskipun ada variasi, tokoh-tokohnya sedikit banyak mudah dikenali dengan memperhatikan unsur-unsur yang menonjol. Tidak seperti wayang purwa, desain wayang wahyu tidak memiliki pakem tertentu. Mungkin karena belum ada usaha membakukan desainnya. Apapun alasannya, keadaan ini membuka kesempatan untuk berkreasi.

Akhirnya setelah membanding-bandingkan desain wayang wahyu dengan wayang purwa, saya memutuskan untuk membuat desain saya sendiri.

Foto di atas adalah hasil eksperimen saya yang pertama untuk karakter wayang wahyu "Gusti Yesus". Kualitas fotonya jelek, tapi setidaknya saya cukup bangga dengan desain pertama. Yah, lumayah bangga lah untuk memamerkannya di sini.

Minggu, 10 Maret 2013

Insomnia di Jakarta

Sudah sejak sebulan lalu saya jadi warga ibukota, sebagai bagian dari "journey to the west" yang saya dan teman-teman niatkan saat masih terdampar di pulau kecil bernyiur itu. Lucunya di kota ini, saya malah terserang insomnia aneh, sulit tidur di malam hari.

Akibatnya, saat orang-orang lain sudah lama bermimpi, jalanan sunyi, saya malah melakukan banyak hal. Pernah, saking "segarnya" saja jalan kaki muter-muter kompleks sampai pegal kaki dengan harapan rasa lelah membantu mata mengatup. Ternyata saya salah besar. Walaupun penat, keringat yang mengucur sebagai konsekuensi aktivitas tubuh sudah tentu malah menimbulkan perasaan tidak nyaman jika dibawa tidur.

Seperti malam ini, saja jadi asik berpikir sendiri. Mencerna macam-macam hal yang terindrai sesiangan. Akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan serangan insomnia aneh ini ke dalam blog saya. Mungkin suatu hari nanti, hari ketika irama tubuh saya sudah "Jakarta banget" sehingga malam hanya sama dengan tidur, saya akan membaca kembali postingan ini dan mengenang malam-malam pertama saya di Jakarta.

Tidak ada apa-apa yang penting dalam tulisan ini, hanya saja saya rasa sudah saatnya detil-detil kehidupan saya dicatat. Sewaktu kanak-kanak, saya mampu mengingat banyak hal secara rinci, baik yang saya pahami maupun yang belum saatnya saya pahami.

Sentimentil? Mungkin. Saya memang tergolong orang yang suka mengenang masa lalu, tentunya masa lalu saya sendiri. Rasanya sangat mudah mengenang peristiwa-peristiwa yang terjadi sampai umur 17 tahun, dan sesudah itu kenangan-kenangan mulai mengabur, kadang-kadang malah kacau.

Oke, kembali ke Insomnia. Apa yang istimewa untuk dikenang sehubungan dengan insomnia ini? Mungkin karena insomnia aneh berkepanjangan seperti ini tidak pernah saya alami sebelumnya. Unik. Layak masuk filing cabinet.

Sabtu, 28 Juli 2012

Ibunda di dalam mimpi

Uudam (Michael Sunam-Uudam, Wūdámù, 烏達木), bocah padang rumput Hulunbuir. Lahir pada 9 September 1999 dengan talenta suara merdu. Sejak berusia lima tahun, Uudam sudah direkrut  menjadi anggota termuda Quintessenso Mongolian Children's Choir, sebuah paduan suara anak-anak Hulunbuir yang mempromosikan lagu-lagu asli Mongolia. 

Baru berusia delapan tahun, hidupnya sudah diguncang tragedi. Uudam yang tumbuh lincah dan nakal, berubah menjadi anak pendiam setelah kecelakaan lalu-lintas merenggut nyawa ibu dan kemudian ayahnya. Namun seperti para leluhurnya, Uudam adalah putera Mongol sejati yang tegar, tangguh. Bila merindukan orangtuanya, Uudam tidak menangis. Dia bernyanyi.

Pada 29 Mei 2011, Uudam tampil di acara kontes bakal China's Got Talent.
Saat ditanya juri, bakat apa yang akan dia tampilkan, Uudam menjawab, bernyanyi.
Di mana bundamu? Di surga.
Ayahmu? Juga di surga.
Jawaban lugu dan wajah polosnya membuat para juri tercekat, penonton terdiam. Lalu Uudam menyanyikan sebuah kidung Mongolia, tentang rindu seorang anak pada ibunya nun jauh di stepa Mongolia, membuat juri dan penonton meneteskan air mata, walau tak banyak yang faham artinya.  Di akhir penampilannya, salah seorang juri memintanya untuk mengucapkan sesuatu tentang ibunya, dan Uudam pun berkata: "Bunda, aku selalu ingat padamu."

Sabtu, 14 Juli 2012

Baju Bodo

Baju perempuan Bugis dan Makassar yang sensual ini memang berbahan muslin yang tembus pandang. Menutupi tubuh pemakainya dari pundak hingga pinggul tanpa menyembunyikan apa pun dari penglihatan.

Polanya sangat sederhana. Berbentuk Trapesium. Dua sisinya disatukan dengan jahitan dengan menyisakan lubang untuk meloloskan kepala dan lengan. Berbahan katun tipis yang ditenun dengan jarak benang yang tidak rapat (menghasilkan efek transparan), membuat sementara kalangan menduga bahwa baju ini termasuk dalam jajaran busana-busana terawal umat manusia.

Meskipun demikian, baju yang sangat sederhana ini lekat dengan serangkaian aturan tertentu, setidaknya bagi kaum perempuan Bugis Makassar. Warna-warni baju bodo misalnya, memiliki fungsi utama sebagai penanda usia dan status sosial pemakainya. Baju bodo yang kaku oleh kanji, atau yang tidak dikanji juga memiliki makna khusus.

Sensualitas baju bodo pernah memikat James Brooke, Raja Putih dari Sarawak ketika mengunjungi Raja Bone,  dan naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace saat bertandang ke istana Raja Gowa. Kedua petualang bule itu sama-sama mencatat dalam jurnal mereka tentang baju yang "tidak menutupi lekuk-lekuk dada dan payudara pemakainya".

Para penghuni Nusantara di masa lampau, seperti rekan-rekan mereka di daratan Asia Tenggara, tidak menganggap perlu menutupi payudara wanita. Iklim panas dan lembap mengilhami mereka untuk mengenakan pakaian seperlunya saja. Bahan yang dipilih pun tipis, bahkan sampai transparan seperti dalam kasus baju bodo. Di awal era kemerdekaan Indonesia, kaum perempuan di pelosok Bali, Kalimantan, dan Papua masih terbiasa beraktivitas tanpa penutup dada. Orang pun masih dapat mengira-ngira "lekuk-lekuk dada dan payudara" pemakai baju bodo di daratan Sulawesi. Di zaman itu, perempuan Sulawesi Selatan mengenakan baju bodo sebagai pakaian pesta. Dan kecuali payudara yang sudah ditutupi beha, seluruh area tubuh dari leher sampai perut perut masih dapat diterawang.

Kini sulit dijumpai baju bodo seperti dalam foto jaman kolonial di atas. Sutera sudah menggeser muslin sebagai material pilihan. Kalau pun ada yang terlihat tembus pandang, biasanya dibuat dari kain kasa. Pemakainya pun pasti mengenakan semacam tank top atau kemben untuk menutupi payudara dan perutnya. Baju bodo sudah bukan lagi busana pesta. Penggunaannya kini terbatas pada upacara-upacara tradisional dan petunjukan-petunjukan budaya Sulawesi Selatan.